Industri Baja Nasional Menjadi Kekuatan Ekonomi Indonesia Saat Ini

Industri Baja Nasional Menjadi Kekuatan Ekonomi Indonesia Saat Ini

harga besi beton – Industri baja diyakini adalah dasar bagi industrialisasi suatu negara dan bertingkah sebagai pendukung perekonomian. Dengan industri baja, karenanya akan tersedia pasokan bahan baku, utilisasi serta energy pada industri hulunya.

“Kecuali itu industri hilir yang memakai material baja juga akan terjaga pasokannya,” kata Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Mas Wigrantoro Roes Setiyadi dalam siaran pers, Jakarta, Senin (20/11/2017) lalu.

Lebih lanjut Dia menjelaskan, baja bisa diaplikasikan pada hampir semua sector industri seperti manufaktur, konstruksi, dan pertahanan. Krakatau Steel sebagai produsen baja nasional terbesar memiliki andil besar dalam penguatan industri tanah air.

“Produk Krakatau Steel mencakup Hot Rolled Coil , Cold Rolled Coil, serta Wire Rod diperlukan dalam seluruh sector infrastruktur seperti transportasi, jalan, pengairan & air minum, minyak gas bumi, ketenagalistrikan, dan telekomunikasi dan informatika,” ungkapnya.

Untuk transportasi produk baja KS sendiri diaplikasikan untuk membangun gerbong, tempat pemberhentian, body dan suku cadang otomotif. Sementara konstruksi jalan, rail guidem rambu-rambu, dan jembatan juga memakai produk baja.

Untuk pengairan terang pipa baja diperlukan untuk distribusi. Tak cuma itu saja, pipa minyak gas dan bumi, boiler, kilang minyak, tabung gas LPG juga banyak yang sudah memakai produk baja PT KS sebagai bahan bakunya. “Produk baja juga dipercaya untuk mendirikan menara BTS untuk keperluan Telekomunikasi dan Informatika,” ungkap Mas Wigrantoro.

Ia memaparkan, untuk keperluan pembangunan jalan ketika ini PT KS tengah memasok untuk membangun jalan tol layang Jakarta-Cikampek II sepanjang 37 KM. Totalnya akan diperlukan 200.000 ton baja plate. Jalan tol layang ini memakai gelagar baja (steel box girder) yang berbeda teknologinya dengan memakai beton.

Mengaplikasikan sistem gelagar baja akan mengurangi jumlah tiang, dengan seperti itu profesi akan lebih pesat selesai. Kecuali itu PT KS juga memasok keperluan pelat baja untuk pembangunan Light Sea Vessel (LSV) yang diorder oleh Filipina buatan PT PAL Surabaya. “Dalam hal ketenagalistrikan, ketika ini juga tengah memasok baja profil siku untuk pembangunan jaringan 46.000 KMS milik PT Perusahaan Listrik Negara,” paparnya.

Kian meningkatnya keperluan baja PT KS juga bercita-cita untuk meningkatkan kapasitasnya dengan menggandeng sebagian pemodal. “Hal inilah yang ketika ini sedang kita kaji bersama dengan mitra kita,” imbuh ia.

Sebagai isu keperluan baja dalam negeri terus meningkat sepanjang tahun 2017 diperkirakan keperluan baja menempuh 13,5 juta ton dan akan meningkat menjadi 14,3 juta ton di tahun berikutnya. Tetapi demikian, lanjut ia, pembangunan industri baja bukan tanpa kendala.

Dari sisi sumber daya produsen baja dalam negeri menginginkan adanya biaya gas dan listrik yang lebih rendah dibanding ketika ini. Kecuali itu, tata niaga juga perlu dikoreksi supaya berpihak terhadap produsen dalam negeri.

Disisi lain, perusahaan manufaktur baja terbesar di Indonesia membukukan pendapatan senilai USD1,04 miliar selama jangka waktu sembilan bulan pertama 2017 (9M 2017). Poin pendapatan hal yang demikian naik 5,87% diperbandingkan jangka waktu sama tahun lalu. Kuatnya harga jual rata-rata produk baja Perseroan menjadi pendukung kenaikan pendapatan KRAS pada sembilan bulan pertama 2017 lalu.

“Harga jual rata-rata untuk produk HRC (hot rolled coil), memberikan donasi terbesar pada pendapatan Perseroan, mengalami kenaikan sampai 33,33% menjadi senilai USD 583 per ton. Seperti pula harga jual rata-rata produk baja Perseroan lainnya seperi CRC (cold rolled coil), long product, dan pipa,” katanya.

Kenaikan harga jual produk baja Perseroan juga cakap mensupport kenaikan marjin dekil Perseroan selama sembilan bulan pertama 2017. Marjin dekil mengalami kenaikan sebesar 94 basis nilai (bps) menjadi 14,99%.
EBITDA Marjin juga mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 268 bps menjadi 13,45% dengan skor EBITDA sebesar USD139,90 juta atau meningkat 32,19% secara tahunan. Secara tetap, Perseroan terus menampakkan pembetulan performa, dimana pendapatan Perseroan meningkat sebesar 5,87% menjadi USD1,03 miliar pada sembilan bulan pertama 2017 diperbandingkan jangka waktu yang sama tahun lalu USD982,29 juta.

Menurutnya, membaiknya pendapatan Perseroan juga terefleksi pada kenaikan signifikan arus kas operasi Perseroan pada sembilan bulan pertama 2017 sebesar 499,71% menjadi USD121,13 juta dari USD21,20 juta pada sembilan bulan pertama 2016.

Ia menuturkan, pembetulan performa Perseroan juga menonjol dari menurunnya rugi bersih Perseroan yang sungguh-sungguh signifikan sebesar 34,57% menjadi USD 75,05 juta dibanding kerugian di sembilan bulan pertama 2016 sebesar USD114,70 juta.

Kecuali sebab adanya pembetulan dari sisi pendapatan, membaiknya performa KRAS juga sebab penurunan tajam rugi selisih kurs sebesar 95,13% serta penurunan muatan keuangan sebesar 17,59% dibanding jangka waktu yang sama tahun lalu.

“Sampai September 2017 lalu, harga jual baja Perseroan masih menampakkan kenaikan yang menempuh USD599 per ton dari yang cuma menempuh USD520 per ton di Januari 2017 lalu. Popularitas pembetulan performa akan lebih pesat ke depannya dengan memperhatikan membaiknya harga baja,” terang ia.

Mas Wig menambahkan, untuk proyek infrastruktur sampai September 2017, KRAS sudah menyuplai 20.369 ton baja untuk proyek konstruksi Jakarta-Cikampek II (Japek II) elevated dari sempurna 225.000 ton baja yang akan disuplai sampai 10 bulan kedepan.

Perseroan juga terus berusaha untuk menambah kapasitas produk baja lembaran canai panas (HRC) dengan membangun pabrik Hot Strip Mill #2 (HSM#2) di wilayah industri Krakatau, Cilegon. Sampai September 2017 lalu, cara kerja pelaksanaan jasmaniah konstruksi HSM#2 telah menempuh 35,93% yang rencananya akan mulai beroperasi pada permulaan tahun 2019 nanti.

“Sebagai produsen baja nasional, tujuan kami yaitu supaya konsisten terus tumbuh dan berkembang secara simultan dengan mitra dan pemegang saham. Proyek ekspansi yang dikerjakan oleh Perseroan ketika ini adalah upaya untuk membenarkan defisit neraca perdagangan baja di masa yang akan datang yang berpotensi menempuh USD15 miliar,” tutup ia.

 

Baca Juga: wire mesh

Leave a Reply