PROSES SAFETY MANAGEMENT (PSM)

PROSES SAFETY MANAGEMENT (PSM)
Pendahuluan
Secara biasa Process Safety Management (PSM)/ Manajemen Keselamatan Pelaksanaan (MKP) merujuk terhadap prinsip dan cara manajemen terhadap identifikasi, pengertian dan pembatasan pada bahaya dampak kesibukan pelaksanaan produksi sebagai upaya perlindungan pada zona kerja.
PSM/MKP berkonsentrasi terhadap:
– Pencegahan
– Persiapan
– Mitigasi
– Respon
– Pemulihan
dari petaka industri
Pelaksanaan yang dimaksud dalam PSM hal yang demikian ialah untuk perusahaan yang menaruh, memproduksi dan mengaplikasikan bahan kimia membahayakan maupun kombinasi dari aktifitas hal yang demikian.

Baca juga : Helm safety

Latar Belakang
Sebagian petaka industri seperti di Bhopal (1984) India yang menyebabkan >2000 orang meninggal, Pasadena (1989) mengakibatkan 23 orang meninggal dan 132 cidera, Piper Alpha (1988) mengakibatkan 167 meninngal dan sebagian b encana industri lainnya yang melibatkan bahan kimia membahayakan yang ditiru dengan kebakaran, peledakan serta paparan bahan kimia berbisa.

Dari sebagian petaka industri di atas memperlihatkan bahwa petaka hal yang demikian susah dicegah dengan pendekatan traditional occupational safety and health yang berkonsentrasi terhadap kekerabatan individu pekerja dengan kelengkapan ataupun pelaksanaan. Banyak keputusan penting yang mengarah terhadap insiden serius, kejadian yang tak terduga diluar kontrol pekerja maupun atasan.
Diperlukan pembatasan yang tepat sasaran yang memperhitungkan aktifitas pelaksanaan, termasuk kelengkapan, prosedur serta organisasi yang dikelola oleh cara manajemen untuk menentukan bahwa seluruh bahaya sudah diidentifikasi dan dikuasai demi kelangsungan suatu pelaksanaan produksi.

Untuk membedakan occupational accident dan process safety accident bisa dianalogikan sebagai berikut :
Occupational Accident :
Seorang pekerja terjepit tangannya di pulley motor sebab dikala menjalankan pembetulan motor tak mematikan motor sebelumnya layak perintah kerja yang ada.
Pelaksanaan Safety Accident:
Semenjak pagi dikenal ada kenaikan suhu pada salah satu bejana tekan, melainkan dengan kenaikan suhu hal yang demikian manajemen berusaha menyelesaikan dengan mendinginkan suhu dengan air sehingga bejana hal yang demikian meledak pada petang harinya, sebab material yang ada di dalam bejana hal yang demikian gampang terbakar karenanya mengakibatkan kebakaran yang hebat.

Unsur Process Safety Management
Standar PSM layak OSHA 29 CFR 1910.119 terdapat 14 unsur sebagai berikut :
1. Employee Participation
2. Process Safety Information
3. Process Hazards Analysis
4. Operating Procedures
5. Training
6. Contractor’s obligation
7. Pre-startup safety ulasan
8. Mecahnical Integrity
9. Hot Work Permit
10. Management of Change
11. Incident Investigation
12. Emergency Planning and Response
13. Compliance Audit
14. Trade Secret

Baca juga : Alat keselamatan kerja

1. Employee Participation
Organisasi seharusnya merencanakan upaya PSM, dan agenda seharusnya meliputi ruang lingkup upaya, peran dan tanggung jawab, prasyarat pelaporan, pendekatan analisa bahaya, pelaksanaan penguasaan dokumen, dan taktik penguasaan bahaya.
Sebagai komponen dari upaya PSM, pengusaha seharusnya berkonsultasi dengan pekerja dan perwakilan mereka untuk menentukan bahwa seluruh pihak memahami bahaya dan risiko dalam pelaksanaan. Secara khusus, pekerja seharusnya mempunyai jalan masuk ke analisa bahaya pelaksanaan dan isu yang dipakai untuk menunjang analisa hal yang demikian. Tanpa partisipasi pekerja risiko mungkin tak sepenuhnya dipahami atau ideal dikomunikasikan.

2. Process Safety Information (PSI)
Organisasi / Pengusaha seharusnya mengumpulkan dan mencatat Pelaksanaan Safety Information (PSI) sebelum menjalankan analisa bahaya.
Tujuan dari isu hal yang demikian ialah sebagai langkah permulaan menjalankan identifikasi bahaya dan resiko yang berkaitan dengan aktifitas pelaksanaan hal yang demikian. Kabar hal yang demikian mencakup bahan kimia yang dipakai / diproduksi, teknologi, serta kelengkapan yang dipergunakan. Secara khusus bila mempergunakan bahan kimia membahayakan, isu mencakup toksisitas, Poin Ambang batas, sifat fisika & kimia, reaktifitas, corrosifitas, serta bahaya yang akan muncul ketika bereaksi.
MSDS dan P&ID’s (diagram alir perpipaan dan instrumentasi) seharusnya diwujudkan.
Critical Parameter seperti batasan maksimum dan minimum penyimpanan bahan kimia seharusnya dipersiapkan. Kabar lain berkaitan sistim keselamatan seperti suhu, tekanan minimum dan maksimum, cara ventilasi dan kode standarisasi seharusnya diperhitungkan dalam desain.

3. Process Hazards Analysis (PHA)
PHA (Process Hazards Analysis) didefinisikan oleh OSHA sebagai pendekatan, menyeluruh, teratur, sistematis untuk mengidentifikasi, mengukur, dan memegang bahaya dari pelaksanaan yang melibatkan bahan kimia membahayakan.
PHA ialah kunci untuk upaya K3 sebab memberikan isu untuk menolong manajemen dan pekerja meningkatkan keselamatan dan membikin keputusan yang ideal untuk menurunkan resiko.
Sebagian cara yang dipakai ialah
-Checklist
– What-if/checklist
– Hazards Operability Study(HAZOP)
– Failure Modes and Effect ANalysis(FMEA)
– Fault Tree Analysis
Penekankan analisa hal yang demikian ialah bahwa PHA seharusnya dijalankan olem team yang mengenal seputar pelaksanaan dan teknik analisa bahaya.
Dalam PHA seharusnya diterangkan rentang waktu untuk mengerjakan saran tindak lanjut, dan di analisa ulang bila ada perubahan.
PHA dianjurkan diukur ulang setiap 5 tahun sekali.

4. Operating Procedure / Prosedur Operasi
Prosedur Operasi menandakan profesi yang seharusnya dikerjakan, data-data seharusnya dicatat (keadaan operasi normal, maksimum dan minimum paramater).
Prosedur juga seharusnya mengidentifikasi perbuatan pencegahan Kecelakaan dan Penyakit Pengaruh Prosesnya. Prosedur Operasi seharusnya terang singkat dan tetap dengan PSI (Process Safety Information) yang merujuk terhadap PHA (Process Hazards Analysis).
Prosedur Operasi seharusnya diukur secara terpola dan diupadate bila ada perubahan parameter, tetap dengan pelaksanaan yang ada.
Pelatihan untuk cara kerja prosedur operasi juga seharusnya menerangkan apa yang seharusnya dijalankan pada keadaan darurat.

5. Training / Pelatihan
Pelatihan ialah unsur yang cukup penting dalam pengaplikasian PSM. Kewajiban-hal yang seharusnya dipandang dalam cara kerja training ialah sebagai berikut :
– cara kerja pelatihan seharusnya dipastikan bahwa peserta bisa memahami resiko profesi berkaitan pelaksanaan maupun bahayanya berprofesi dengan bahan kimia membahayakan, termasuk mengerahui apa yang seharusnya dijalankan dalam keadaan darurat.
– Ulasan disesuaikan dengan keperluan perusahaan
– Secara periodik diukur keefektifan dari cara kerja teraining hal yang demikian.

Terkait : Kerucut jalan

6. Contractor’s Obligation / Semua kontraktor
Banyak perusahaan yang mempekerjakan kontraktor dalam pekerjannya. Meruypakan tanggungjawab perusahaan untuk menentukan bahwa kontraktor yang berprofesi di zona kerjanya sudah mempunyai cukup pengetahuan dan keahlian dalam melaksanaan profesi layak dengan prasyarat K3 secara khusus yang kontak dengan bahan kimia membahayakan. Kontraktor bertanggungjawab untuk mengerjakan prosedur kerja selamata yang ditentukan oleh perusahaan.
Pihak perusahaan seharusnya menjalankan evaluasi kepada daya kerja kontraktor dalam mengerjakan prosedur kerja selamat.

7.Pre-Startup Safety Mesti
Banyak kecelakaan terjadi masa transisi ke fase operasi stabil, seperti pada ketika start up atau commisioning pada kelengkapan baru, secara khusus bila ada perubahan /modifikasi kelengkapan. Pre startup amat perlu dilakukam dan ditulis dalam prosedur operasi. Pekerjaan parameter sudah ditulis dalam P&ID dan prosedur emergency shutdown sudah dikomunikasikan.

8. Mechanical Integrity
Dalam pengoperasian kelengkapan, hal yang amat penting ialah perawatan dari kelengkapan hal yang demikian. Pekerjaan dipastikan bahwa kelengkapan hal yang demikian bisa dioperasikan dengan bagus.
PSM mempersyaratkan terdapat prosedur perawatan tertulis untuk kelengkapan sebagai berikut :
– Bejana Tekan dan tangki penyimpan
– Sistim perpipaan (termasuk komponennya seperti valve)
– Sistim Relief dan venting
– Sistim emergency shutdown
– Sistim kontrol (sensor, alarm, interlock)
– Pompa
Prosedur hal yang demikian meliputi inspeksi dan testing

9. Hot Work Permit / Ijin Analisa Panas
Analisa pembetulan maupun modfikasi yang sifatnya tak rutin, khusunya hot work seperti aktifitas pengelasan berpotensi kepada kebakaran dan peledakan. Organisasi seharusnya memiliki prosedur ijin profesi panas untuk menentukan profesi hal yang demikian sudah di analisis resikonya, terdapat upaya menurunkan resikonya (mitigasi) dan personil yang terlibat dalam profesi hal yang demikian sudah mengenal bahaya yang muncul dampak profesi hal yang demikian.

10. Management of Change / Manajemen Perubahan
Sistim yang dipakai dalam operasi seperti mesin, design, prosedur, bahan baku maupun personil yang terlibat seringkali terdapat perubahan yang kadang-kadang dapat meningkatkan resiko. Untuk itu, perubahan hal yang demikian seharusnya diukur untuk menentukan resiko dari segi K3-nya bisa dikuasai.
Keadaan perubahan hal yang demikian mencakup hal-hal sebagai berikut :
– Data Teknik perubahan
– Agenda perubahan kepada pekerja ditinjua dari K3
– Modifikasi prosedur operasi
– Waktu yang diperlukan untuk perubahan
– Otorisasi prasyarat dari perubahan yang diusulkan
Organisasi tak wajib berasumsi sedikit perubahan tak berimbas terhadap K3. Banyak kecelakaan yang berdampak dari perubahan kecil yang dianggap tak berimbas kepada K3.

11. Investigasi Kecelakaan
Syarat atau problem yang dikenal tak wajib untuk dibolehkan. Kegagalan untuk investigasi serta membetuli dari akar permasahan (root cause) bisa berdampak kecelakaan akan terulang pun bisa berdampak lebih besar. Organisasi seharusnya konsentrasi kepada pencegahan kecelakaan tak cuma melaporkan dilema dan ini memerlukan analsis akar problem. Organisasi seharusnya mempunyai program yang aktif untuk mengidentifikasi dilema yang ada sehingga kecelakaan tak terjadi. Nearmiss yang bisa berdampak terhadap petaka industri seharusnya seketika di tindak lanjuti. Belajar dari petaka industri yang sudah terjadi sebagai upaya pencegahan keelakaan sangatlah penting.

12. Tetapi Tanggap Darurat
PSM sebagai upaya yang amat penting sebagai pencegahan kecelakaan, namun baik apapaun organisasi berusaha membangun sistim K3, desain dapat gagal, personil bisa bertindak kekeliruan sehingga terjadi insiden diluar kendali perusahaan.
Oleh sebab itu, organisasi seharusnya merencanakan untuk kondisi darurat dan siap untuk menanggapi. Minimal, pengusaha seharusnya mengoptimalkan agenda tanggap darurat yang mencakup daerah evakuasi dan pelatihan dalam penerapan alat pelindung diri. Karyawan seharusnya dilatih untuk agenda ini supaya dapat tepat sasaran, dan cara alarm seharusnya digunakan.

13. Compliance Audit
Audit ADALAH sarana untuk menentukan bahwa prosedur dan cara kerja PSM dikerjakan dan memadai. PSM, audit seharusnya dijalankan setidaknya tiap tiga tahun. Audit seharusnya dijalankan oleh individu atau regu yang terlatih, dan audit seharusnya direncanakan untuk menentukan keberhasilan pelaksanannya.

14. Trade Secret / Rahasia Dagang
Organisasi seharusnya membikin isu keselamatan penting tersedia bagi seluruh personil yang terlibat, mengoptimalkan analisa bahaya, membikin prosedur operasi, menyediakan perencanaan dan tanggap darurat, menjalankan audit, dan berpartisipasi dalam penelusuran kecelakaan.
Organisasi seharusnya membikin isu ini tersedia pun apabila rahasia dagang disertakan. , organisasi bisa membikin kesepakatan bahwa rahasia dagang tak disebar luaskan.

 

 

Baca juga : Rompi safety